Sambel tlenjeng merupakan sambel yang khas, sederhana dan sangat cocok untuk teman makan siang atau makan malam. Bahan-bahan untuk membuat sambel tlenjeng tidak banyak. Sebenarnya ada 2 versi sambel tlenjeng, yang pertama sambel tlenjeng versi banyumas, dan satunya lagi sambel tlenjeng versi Jogjakarta. Saya akan memberikan resep membuat sambel untuk Anda yang suka pedes-pedes nikmat. Karena sambel akan membuat Anda jadi doyan makan, cocok untuk Anda yang kepingin menambah berat badan.

Membuat sambel tlenjeng versi banyumas hanya memerlukan 5 macam bahan, yakni cabe rawit, bawang putih, garam, gula merah dan minyak jelantah. Pertama siapkan cabe rawit sekitar 10 biji, bersihkan lalu masukkan ke dalam pengulekan sambel. Masukkan garam kurang lebih 1/4 sendok teh dan 1/2 siung bawang putih. Gerus sampai halus. Tambahkan gula merah yang secukupnya, tambahkan setengah sendok teh minyak jelantah, lalu ratakan. Sambel tlenjeng versi banyumasan siap disajikan.

Sedangkan sambal tlenjeng versi Jogjakarta lebih sederhana dilihat dari segi bahan dan cara membuatnya. Anda tidak memerlukan gula merah dan minyak jelantah untuk membuat sambel tlenjeng versi Jogjakarta. Cukup sediakan cabe rawit, bawang putih dan garam lalu uleg sampai halus, sambal siap disajikan. Dari berbagai macam jenis sambal, ada sambal terasi, sambal udang, sambal bajak, sambal tomat, sambal pecel, sambel lalap, sambel sate, sambel soto, pokoknya macam-macam sambel yang paling nikmat ya sambel tlenjeng.

Disaat harga-harga semakin membumbung tinggi, dan krisis yang tak berkesudahan, meskipun kita mengklaim telah keluar dari krisis, nampaknya kita memang harus siap-siap untuk makan nasi akik hanya dengan sambel saja. Ketika lowongan pekerjaan semakin sempit, KKN meraja lela, sistem outsourcing yang tidak memihak rakyat kecil tetap dipertahankan, undang-undang BHP yang semakin memperkecil peluang orang miskin untuk kuliah ditempat yang layak, mau makan apa?

Saya pernah membuat status di facebook "Apa bedanya makan apa hari ini dengan hari ini makan apa?". Makan apa hari ini adalah pernyataan atau pertanyaan sebagian besar rakyat Indonesia, yang berpenghasilan kurang dari 5 ribu per hari. Saya jelas menyangkal apa yang dinyatakan oleh Prabowo yang mengatakan bahwa penghasilan sebagian besar bangsa Indonesia adalah dibawah Rp. 20.000,- itu salah besar. Yang benar adalah penghasilan rakyat Indonesia sebagian besar dibawah 5 ribu rupiah, Anda tidak percaya? Silahkan Anda pergi ke daerah kumuh atau ke desa-desa tanyakan ke mereka berapa pendapatan mereka dalam sehari?. Anda akan terhenyak bahwa sebagian dari mereka akan menjawab 0 rupiah. Setiap bangun tidur mereka bertanya "hari ini makan apa?". Alhamdulillah masih ada cabe buat nyambel tlenjeng.

Kita bandingkan dengan tetangga kita di Jakarta atau di kota besar lainnya yang tinggal di Pondok Indah atau di Pantai Indah Mutiara Kapuk atau di Bintaro atau mungkin di Menteng. Sebagian besar dari mereka berpenghasilan sama dengan rakyat kecil yakni 5000 rupiah, tapi yang membedakan adalah periodenya. Jika rakyat kecil mendapat 5000 per hari, maka mereka mendapat 5000 per 0.001 detik. Mereka menghasilkan milyaran rupiah setiap bulannya. Yah, minimal ratusan juta per bulan. Pernah saya numpang kapal pesiar milik seorang pengusaha di Pantai Mutiara, dia bercerita bahwa kapal pesiar yang saya tumpangi itu harganya 25 Milyard. Padahal yang saya tahu dia memiliki lebih dari 10 kapal pesiar. Sebagian lagi dia parkir di Singapura untuk menyembunyikan kekayaannya. Kepada rekan atau keluarganya atau istri simpanannya dia mengatakan "Mau makan apa hari ini?". Udah ah, tar dikira perbuatan tidak menyenangkan :(

Sambel telanjang eh maksud saya sambel tlenjeng akan selalu menjadi makanan yang tak pernah usang dimakan waktu, makanan yang selalu mengikuti perkembangan jaman, makanan yang selalu uptodate. Kok bisa? Karena dari waktu ke waktu perekonomian kita ya begini-begini saja, walaupun jaman berubah, tetapi tetap saja makannya sambel tlenjeng karena kita tak mampu membeli tempe, boro-boro daging. Yah paling-paling kita sekali-kali makan daging tutul kecap. Maksud saya ditelunjuk kita kan ada sedikit dagingnya kan? Telunjuknya dicelup terus dijilat deh, itulah cara makan daging tutul kecap (daging telunjuk :P) khas wong cilik.

Jadi indikator kesuksesan ekonomi kita bisa diukur dari sambel tlenjeng, kalau masih banyak yang mengatakan sambel tlenjeng itu nikmat, berarti ekonomi masih memihak orang-orang besar, jika rakyat sudah tidak doyan sambel tlenjeng, berarti ekonomi sudah membaik. Ingat masa depan bangsa Indonesia 5 tahun mendatang ada ditangan Anda sendiri, bukan ditangan para capres cawapres yang sekarang sedang pusing memikirkan cara untuk memenangkan pemilu. Bekerja keras, berdoa, belajar dan jangan bergantung pada para pemimpin. Percayalah, jika kita tidak berusaha sendiri, mereka tidak akan memberikan apapun untuk kita dan keluarga kita.

Cetak Halaman Ini