Hari Jum'at, 15 Mei 2009 adalah hari terakhir bagi partai-partai peserta Pemilu 2009 untuk menetapkan pasangan capres dan cawapres. Dapat dipastikan ada 3 pasangan capres cawapres peserta pemilihan presiden dan wakil presiden pada 5 Juli 2009 mendatang. Kualisi partai demokrat mengusung pasangan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) - Budiono sebagai kandidat yang mereka unggulkan. Kualisi partai demokrat mendeklarasikan pasangan capres cawapres di Bandung Jumat sore. Sementara itu golkar mengusung Jusuf Kalla (JK) - Wiranto sebagai kandidat capres cawapres andalan. Golkar yang berkualisi dengan partai Hanura adalah kualisi partai yang pertama kali mendeklarasikan pasangan capres dan cawapres. Sementara dari kubu Megawati yang berkualisi dengan partai Gerindra mengusung pasangan Megawati - Prabowo atau Mega Pro sebagai calon capres dan cawapres pilihan mereka.

Kualisi Partai Demokrat

Perolehan suara Partai Demokrat pada pemilihan calon legislatif (caleg) 9 April 2009 kemarin menduduki posisi pertama yakni sekitar 20%. Dengan perolehan ini, partai Demokrat bisa mengajukan calon Presiden dan calon wakil presiden sendiri tanpa berkualisi. Tapi tentunya untuk mendapat suara yang lebih, partai ini harus berkualisi. Dan partai yang berkualisi dengan demokrat adalah Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). PKS, PKB dan PAN awalnya merasa kecewa dengan dipilihnya Budiono sebagai pendamping SBY, sempat terjadi pro dan kontra antara petinggi-petinggi partai tersebut, bahkan sempat terdengar isu, mereka akan mengundurkan diri dari kualisi jika SBY memilih Budiono sebagai cawapres. Namun, setelah para ketua partai tersebut di lobby oleh SBY, kekecewaan mereka hilang, dan mereka menyatakan dukungan mereka terhadap pasangan SBY Berbudi. Sementara itu PPP sejak awal sudah menyetujui siapapun cawapres yang akan dipilih SBY. Partai Demokrat sendiri menyerahkan mandat penuh kepada SBY untuk memilih cawapres yang akan mendampinginya pada Pilpres Juli mendatang.

Sempat terjadi kontroversi pemilihan Budiono sebagai cawapres karena Budiono dianggap sebagai tokoh yang mengusung sistem ekonomi neo liberal. Ekonomi Neo Liberal adalah sistem ekonomi yang membebankan sektor-sektor umum kepada pihak swasta. Kewenangan ekonomi lebih dibesar diperankan oleh swasta dibandingkan oleh pemerintah. Budiono menampik tuduhan ini, ia mengatakan bahwa sistem ekonomi yang dia anut adalah sistem ekonomi kerakyatan. Penyebab kontroversi lainnya adalah, karena cawapres yang dipilih bukan berasal dari partai yang mereka ajukan. :)

SBY sendiri dalam pidatonya mengatakan, bahwa proses pemilihan Budiono sebagai cawapres sudah melewati berbagai pertimbangan yang matang. Sudah dilakukan riset secara ilmiah serta sudah dimusyawarahkan dengan tokoh masyarakat tingkat atas sampai masyarakat tingkat bawah. Susilo Bambang Yudhoyono memilih Budiono karena Budiono dianggap jauh dari berbagai kepentingan partai, sehingga diharapkan dapat bekerja lebih optimal. Budiono yang saat ini menjabat sebagai Gubernur BI dianggap mampu meningkatkan perekonomian bangsa pada saat krisis global seperti sekarang ini. Akhirnya kualisi partai Demokrat mengusung Susilo Bambang Yudhoyono sebagai calon presiden dan Budiono sebagai calon wakil presiden.

Kulisi Partai Golkar

Usaha kualisi golkar dengan demokrat mengalami jalan buntu. Kualisi yang sudah dibangun selama 4 tahun, harus terputus. Dalam peraturan yang dibuat oleh demokrat, salah satu syarat untuk menjadi cawapres adalah bukan dari ketua umum. Padahal partai golkar sendiri sudah memutuskan untuk mengusung Yusuf Kalla sebagai presiden. Karena tidak ditemukan titik temu antara kedua partai, maka partai golkar memilih untuk putus hubungan yang terjalin setelah hampir 5 tahun dengan partai demokrat. Golkar memutuskan untuk berkualisi dengan Wiranto dari partai Hanura. Mereka mendeklarasikan Yusuf Kalla sebagai calon presiden dan Wiranto sebagai calon wakil presiden.

Kualisi Yusuf Kalla - Wiranto ini juga mengungkapakan akan menjalankan sistem ekonomi kerakyatan. Yusuf Kalla menyatakan keberhasilan pemerintahan Indonesia pada 2004-2009 sebagian besar adalah peran dari partai Golkar. Lucu juga menurut saya karena JK dan Wiranto saling bersaing pada pilpres 2004, sampai terjadi perpecahan intern partai golkar, namun sekarang menjadi pasangan. Tak ada teman atau musuh abadi dalam politik.

Kualisi PDIP

PDIP mengalami jalan buntu setelah melakukan komunikasi politik dengan partai golkar dan Partai Hanura. PDIP kemudian memilih untuk berkualisi dengan partai Gerindra. Kualisi ini berlangsung alot. Pasalnya Megawati ingin menempati posisi sebagai calon presiden, Prabowo juga demikian. Akhirnya dari kediaman Megawati Soekarno Putri di Jl Teuku Umar dideklarasikan pasangan capres dan cawapres, Megawati sebagai calon presiden dan Prabowo sebagai wakil presiden. Mereka juga mengklaim akan menjalankan sistem ekonomi kerakyatan.

Jadi dapat dipastikan akan ada 3 pasangan capres cawapres peserta pilpres Indonesia pada 5 Juli 2009.

Cetak Halaman Ini