Perjalanan ke Roxi buat beli handphone Siemens C-55 buat modem SMS Gateway. Kenapa saya pilih Siemens C-55, karena HP jadul, dudul, kuno yang sekarang sudah jadi barang antik ini paling stabil dan kokoh buat modem SMS Gateway. Koneksi HP Siemens ke PC nyambung terus, g putus-putus. Setting koneksi handphone ini juga mudah jika dibandingkan dengan handphone yang lain. Nah, saya iseng-iseng bikin program ramalan lewat SMS, ya mirip kayak ramalan Deddy Corbuzier, atau ramalan Ki Joko Bodo atau ramalan paranormal lainnya yang ada diiklan-iklan di TV. Nanti kalo programnya udah jadi, teman-teman boleh mencoba ramalan SMS-ku heh..he..., jangan kaget kalo jawaban ramalan bernada humor, karena memang saya buat ramalannya tanpa menggunakan kitab kuno tapi menggunakan kitab ngasal. Saya masih menggunakan java versi 1.5 dan menggunakan JCreator sebagai editornya. Walaupun isinya berdasarkan hitung-hitungan fisik dari tanggal lahir atau karakter nama atau nomor handphone dari pengirim SMS, tapi jawabannya dijamin ngawur mode on.

Lanjut tentang perjalanan ke Roxy, Jakarta Pusat. Saya lewat depan Mall Taman Anggrek, lalu ke perempatan Grogol belok kanan, setelah Universitas Taruma Negara / bersebelahan dengan Universitas Trisakti, maju sedikit ada Rumah Sakit Sumber Waras. Nah, setelah itu saya maju sedikit ketemu rel kereta api. Sudah terlihat ITC Roxy yang letaknya ada diseberang jalan, jadi saya harus cari puteran balik arah. Pas muter, tiba-tiba saya dengar suara peluit. Priiiiiiirrtt...!!! Didepan orang berseragam polisi menghalangi lajuku dengan cara melentangkan kedua tangannya sambil mengikuti gerak belok motorku. Saya belok kiri, dia geser ke kanan, saya belok kanan dia geser kekiri juga, selalu menghalangiku. Untung ga ketabrak, saya kan g pake sabuk pengaman h.e.h.. Sayapun berhenti karena g ada lagi ruang gerak buat "melarikan diri".

Setelah menanyakan surat-surat kendaraan, saya mengeluarkan STNK dan SIM saya, semuanya lengkap. Spion juga lengkap kiri kanan. Sampai tutup pentil juga lengkap, pokoknya super lengkap dan tidak ada alasan untuk menilang.

Sampai akhirnya orang berseragam polisi itu bilang, "Karena kau tak mengindahkan polisi untuk berhenti, maka kau kutilang!!".
Dengan nada kesel saya jawab, "Kalau saya kutilang, bapak perkutut", tapi jawabnya dalam hati sambil senyum sendiri. "Salah saya apa, kok ditilang?", tanyaku sambil sok nglirik nama di dada seragam itu sambil manggut-manggut.
"Ya sudah, saya kasih pilihan, mau 'ditolong' apa ditilang?", tanyanya.
"Berapa Pak?", tanyaku.
"Lima puluh ribu", jawabnya.
"Owh, gini aja Pak, ini motor bapak bawa aja, nanti kakak saya yang ngambil. Kebetulan dia juga lagi dinas", jawabku sambil senyum pas inget saya punya saudara polisi di Purbalingga, (padahal ditilangnya di Jakarta he..he..).
"Eh..eh.. dik jangan ditinggal motornya, ya udah 20rb aja", pintanya
"Udah biar kakak saya yang ambil Pak", jawabku sambil berjalan meninggalkan motorku.
"Waduh...!!, Ya udah nih, bawa aja", sambil mesem kecut, "Lain kali hati-hati ya, salam buat kakaknya".

Yah, itulah sekelumit cerita tentang orang yang berseragam polisi (g tau polisi beneran apa polisi palsu alias polisi gadungan). Soalnya setahu saya polisi itu kerjanya bukan mintain duit kayak gitu, tapi membela yang lemah dan membela kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu. Kalau ada yang kayak gitu, bukan polisi kali ya?

Yah, semoga citra polisi semakin baik kedepannya. Semoga juga Kepolisian Republik Indonesia bisa mengamankan pelaksanaan Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 dengan baik.


Cetak Halaman Ini