Perjalanan mendaki gunung adalah perjalanan yang menyenangkan. Bersatu dengan alam. Berjuang mendaki, merangkak, terjatuh dan bangun lagi, lalu berjalan lagi untuk mencapai puncak. Tidak ada jalan yang lurus sitorus, jalannya semua berkelok-kelok sembilan. Terkadang menanjak ke atas, terkadang manurung ke bawah. Yang ada hanya tobing-tobing, tak ada lagi pohan-pohan, semua habis ditebang. Tak tahu mana timur mana hutabarat.

Tiba-tiba ada sinaga dan rajagugug, susah mencari tempat parlindungan. Terpaksa mencabut pisau, tapi ternyata pisaunya sitompul. Akhirnya saya ber-silalahi untuk melawan, tapi saya terdesak, setelah saya kasih tulang, rajagugug baru mundur. Perjalanan bukan semakin mudah tetapi simanungkalit.

Dengan terseok dan penuh perjuangan, sampai juga di puncak. Esoknya turun gunung. Celana sudah robek disana -sini, sungguh malu. Cari panjaitan di dekat pasaribu, tepatnya di samping tambunan sampah. Tanya harga, ternyata mahal, sampai pangaribuan. Tak ada yang harganya napitupulu. Pendaki pulang dengan celana robek.

Ada rasa puas, puncak sudah diraihnya walaupun perjalanan yang dilewati
tak mulus. Tetapi ia tidak mau selamanya di puncak. Ia tahu ia harus turun gunung.

Cetak Halaman Ini

ANA PRIVAT
Jl. Maharta IV, Block A-19 No. 13, Pondok Maharta, Ciledug, Tangerang, Banten 15154. Telp. 021-926 48 700, 021-986 70 881
Thanks for your comment. I will visit back as soon as possible. Regards.
zwani.com myspace graphic comments