Saya butuh komentar Anda. Terima kasih sebelumnya atas kesediaan waktunya.

Ada seorang gadis kecil anak petani yang sangat miskin sebut saja namanya Melati, rumahnya sangat reot. Selepas SD anak itu hampir tidak bisa melanjutkan ke SMP, untung saja ada kakaknya yang rela membantu walaupun keadaannya sendiri juga memprihatinkan sehingga akhirnya dengan terseok anak tersebut bisa lulus. Selama sekolah prestasi anak tersebut tidak terlalu buruk, dia selalu masuk lima besar. Namun malang, ketika hampir lulus kakaknya meninggal karena kecelakaan, sehingga selepas SMP tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke SMA. Dia mencoba melamar di sekolahnya Bapak B.J. Habibie, dia mendapat informasi tentang sekolah tersebut dari guru SMP-nya. Dia mengirim surat ke Bapak B.J. Habibie, namun balasan yang ditunggu-tunggu tak datang juga.

Suatu malam dia dilamar oleh seorang pemuda. Singkat cerita kedua pemuda dan pemudi itu saling cocok, tali cinta pun terjalin erat diantara keduanya. Saling terbuka dan saling percaya diantara mereka membuat jalinan cinta semakin erat.

Seiring berjalannya waktu bapaknya tidak lagi mampu bertani, sehingga Melati terpaksa menerima tawaran seseorang untuk bekerja di Malaysia sebagai TKI untuk membantu mencari sambung hidup keluarga. Ia minta doa restu ke pacarnya dan keluarganya dan berangkatlah. Sangat berat rasanya meninggalkan kampung halamannya, apalagi cintanya dengan pacarnya baru bersemi. Namun niatnya mengalahkan segala rasa itu.

Tahun pertama keluarganya menerima 2 surat dari Melati. Namun, tahun kedua tidak lagi terdengan kabar. Beberapa kali bapaknya menulis surat, namun balasan yang diharapkan tidak datang juga. Bapaknya sangat mengharapkan kedatangan putri satu-satunya tersebut. Rasa khawatir, rindu, cemas dan harapan atas Melati bercampur aduk di hati Bapak. Campur aduk rasa itu membuat bapaknya menulis surat yang berisi berita bahwa keadaan bapaknya sekarang sakit keras, dan sangat mengharapkan kehadiran Melati.

Inilah awal mula bencana yang akan menimpa Melati.

Sementara di kota Tawao, Malaysia, Melati duduk sambil membayangkan keadaan kampung halamannya. Kebetulan hari itu seluruh keluarga majikan tempat ia bekerja sedang pergi. Tiba-tiba di luar terdengar suara seseorang, Melati keluar dan mendapati seorang tukang pos disana. Melati menerima surat dari tukang pos itu. Tertulis teruntuk ananda tercinta Melati. Senyum tersimpul dari bibir manis Melati. surat yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Sudah lama ia menantikan balasan dari bapaknya. Beberapa kali ia menulis surat ke bapaknya baru kali ini ia mendapat balasan. Melati membaca surat tersebut, mukanya berubah menjadi sedih ketika ia mendapat kabar bahwa bapaknya sedang sakit keras. Surat tersebut semakin menguatkan niatnya untuk kabur dari rumah tempat ia berkerja. Selama ini Melati sudah merasa cukup tersiksa bekerja dirumah itu. Beberapa kali ia mendapatkan penyiksaan fisik, hanya karena kesalahan kecil. Dengan membawa uang hasil jerih payahnya Melati kabur, pergi ke pelabuhan Emigresen Tawao.

Langit tampak gelap. Petir mulai menyambar, dan badai datang. Perahu yang ditumpangi Melati terombang-ambing dan akhirnya tenggelam. Melati mendapati dirinya di rumah reot milik seorang nelayan. Setelah sadar, Melati menceritakan semua yang terjadi ke Nelayan tua yang telah menemukannya di pinggir pantai Pesona Pangkal Pinang. Melati minta tolong ke Nelayan tersebut agar mau mengantarnya ke seberang, ke pulau Jawa. Nelayan itu ingin menolong tapi ia tidak memiliki perahu, hanya uang Rp. 30.000 saja yang mampu ia berikan. Nelayan itu memberitahu bahwa ada saudagar kaya disitu yang mempunyai perahu. Seminggu sekali perahunya mengirim barang dagangan ke pulau Jawa.

Melati dengan tertatih mendatangi rumah Saudagar itu. Saudagar itu sangat ramah, singkatnya Melati pun ikut ke perahu saudagar tersebut menuju Pulau Jawa. Dalam perjalanan, Melati di panggil masuk ke ruangan pribadi saudagar itu. Melati pun masuk. Terjadi percakapan empat mata antara saudagar dengan Melati. Saudagar berjanji akan mengantarkan Melati ke Pulau Jawa dengan syarat Melati harus tidur bersama saudagar tersebut. Kalau Melati tidak mau, maka ia akan dibuang ke laut. Melati menjerit sejadi-jadinya, ia berontak tapi tidak bisa memilih. Dengan hati tersayat Melati memilih untuk melayani saudagar itu.

Setibanya di Pelabuhan Tanjung Priuk, Melati diberi uang saku oleh saudagar untuk ongkos ke rumahnya. Dengan wajah pucat, langkah gontai, kusut dan tak ada lagi keceriaan Melati mengetuk pintu rumahnya. Bapaknya keluar. Melati menangis memeluk erat bapaknya. Bapaknya juga tak mampu menahan air matanya. Setelah rasa kangen sedikit terobati, bapaknya bercerita bahwa bapaknya sangat merindukan Melati, sampai-sampai bapaknya berbohong berpura-pura sakit dalam suratnya. Wajah Melati mendadak memerah, ia terlihat marah sekali. "Ternyata yang diceritakan dalam surat itu hanya bohong, bapak tidak sakit?", geramnya. "Bapak tahu, saya telah mengorbankan sesuatu yang paling berharga yang saya miliki hanya untuk menjenguk bapak yang katanya sakit!!", tambahnya, "Bapak jahaa...t...!!!".

Melati berlari sambil menangis. Ia menuju ke rumah pacarnya. Sesampainya di sana, ia menceritakan atas semua yang telah terjadi. Ia berharap pacarnya masih mau menerima keadaan dirinya. Namun, pacarnya sangat marah dan tidak mau menerima Melati yang sudah tidak lagi suci. Bahkan Melati diusir dari rumah pacarnya.

Waktu hampir Magrib. Melati berjalan gontai, tak tahu harus kemana. Wajahnya sayu, tak ada harapan. Terbayang majikannya yang selalu menahan surat untuknya dari bapaknya. Majikannya juga yang selalu mengambil kembali surat yang akan dikirimkan ke bapaknya. Hampir tiga tahun merantau tidak mendapatkan uang, hanya derita yang menimpa. Melati terus larut dalam pilu.

Kesokan harinya warga kampung digegerkan dengan ditemukannya sesosok mayat wanita usia belasan tergantung di sebuah pohon. Melati mati bunuh diri.

Yang saya harap komentar dari anda berisi tentang siapa yang harusnya bertanggung jawab atas meninggalnya Melati?

1. Melati sendiri ?
2. Bapaknya atas kebohongannya ?
3. Pacarnya atas penolakannya ?
4. Majikannya atas sikapnya ?
5. Nelayan tua karena telah memberitahu rumah saudagar ?
6. Saudagar atas syaratnya mengantar Melati ?
7. Makelar yang mencari TKI ?
8. B.J. Habibie ?

Cetak Halaman Ini

ANA PRIVAT
Jl. Maharta IV, Block A-19 No. 13, Pondok Maharta, Ciledug, Tangerang, Banten 15154. Telp. 021-926 48 700, 021-986 70 881