Saat ini adalah masa-masa dimana mahasiswa angkatan baru beradaptasi dengan lingkungan kampus. Masa seorang pelajar dibebaskan dari berbagai keseragaman berpikir. Dari TK sampai SMA para pelajar didoktrin untuk memiliki pemikiran yang seragam. Hal ini terlihat dari penyeragaman pakaian, dari sepatu, tas, sampai baju seragam. Anda tentu masih ingat, betapa Anda akan dihukum ketika Anda menggunakan seragam yang salah. Padahal bisa jadi seragam yang seharusnya dipakai sobek atau diambil oleh pencuri jemuran.

Disadari atau tidak sedikit banyak penyeragaman ini sudah mengurangi kreatifitas berpikir anak-anak. Pernah dalam sebuah pelatihan di lembaga kecil yang saya kelola saya menginstruksikan para peserta untuk menggambar pemandangan. Hasilnya persis seperti yang saya duga, semua peserta menggambar gunung, ada mataharinya, ada jalan menuju puncak gunung, dan pohon dan ada sawah serta ada awan. Anehnya, hampir semua gambar hampir sama. Itu adalah hasil pendoktrinan keseragaman yang di drill dari TK sampai SMA.

Sebenarnya hal ini sudah disadari oleh beberapa pihak, sehingga kurikulum pendidikan diganti menjadi kurikulum berbasis kompetensi. Sayangnya para pengajar masih belum memahami sepenuhnya arti kurikulum berbasis kompetensi ini. Mereka masih menggunakan pola-pola lama dalam mengajar. Dalam kurikulum berbasis kompetensi, tidak ada jawaban yang salah dari setiap pelajar selama anak tersebut memberikan alasan yang masuk diakal dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebagai contoh jika guru Matematika memberikan pertanyaan 1+1=x, kita disuruh menentukan nilai x. Bagi sebagian besar siswa mereka akan memberikan nilai x adalah 2. Tapi sebaiknya guru jangan langsung menyalahkan jika ada siswa yang menjawab bahwa nilai x = 1 jika siswa dapat memberikan bukti 1+1=1
. Jika siswa dapat menjelaskan jawaban berdasarkan teori-teori yang ada, maka apapun jawaban siswa tersebut bernilai benar.

Namun masih banyak yang belum memahami kurikulum berbasis kompetensi, rancangan sangat bagus ini sampai sekarang masih belum dapat berjalan padahal kurikulum ini sudah dicanangkan sejak tahun 2006. Memang susah mengubah pola yang sudah memfosil selama puluhan tahun.

Cetak Halaman Ini